Ngobrol bareng gitaris Mocca, Riko Prayitno: Album ‘Lima’ dan bagaimana Mondo Gascaro terjebak di dalamnya

May 7, 2018
1184 Views
Gitaris Mocca, Riko Prayitno (Foto: Jovy Akbar)

Saat menunggu jam on stage, gitaris Mocca, Riko Prayitno terdiam bengong. Speechless.

Riko bukan  terkejut lantaran melihat penampilan band pembuka Mocca di acara malam itu. Bukan juga karena terpukau mendengar kualitas sound di panggung pasca  soundcheck.

Riko hanya sedang menirukan ekspresi ratusan Swinging Friends yang bingung mendengar seluruh materi album terbaru Mocca, ‘Lima’ saat dibawakan pertama kali di Secret Show Mocca edisi ketujuh di Spasial Bandung, Minggu 4 Februari silam.

Maklum, album terbaru senior indie pop asal Bandung ini mengusung lirik berbahasa Indonesia sepenuhnya, benar-benar di luar pakem mereka. Dari total empat album, satu EP, dan satu single sebelum ‘Lima’, Mocca tercatat hanya punya satu lagu berbahasa Indonesia, yakni ‘Hanya Satu’ yang diambil dari original soundtrack film ‘Untuk Rena’ (2005).

Selebihnya, yang paling baru ada ‘Menunggu untuk Bertemu’, single kolaborasi dengan Payung Teduh untuk album kompilasi Urban Gigs Unreleased Project.

“Itu pun dikerjakan di masa kami ngerjain materi album ‘Lima’,” ujar Riko.

Gitaris Mocca, Riko Prayitno (Foto: Jovy Akbar)

Tepat sebelum Mocca naik ke atas panggung di acara Jazzphoria di Grand Indonesia Jumat (4/5) lalu, Riko bercerita banyak kepada saya mengenai album ‘Lima’, bagaimana Mondo Gascaro akhirnya “terjebak” sebagai produser album, dan sulitnya meramu formula lirik lagu berbahasa Indonesia a la Mocca.

Selengkapnya dalam wawancara berikut.

Sebenarnya saya sudah mendapat bocoran album terbaru Mocca bakal full berbahasa Indonesia setahun sebelumnya. Memang sudah selama itu ya terpikir untuk bikin album berbahasa Indonesia?

Iya sih. Sebenernya gue tuh pingin albumnya, simply punya ciri khas. Landmark-nya itu tuh ada. Kayak dulu R.E.M pas lagi ‘Out Of Time’ (1991), terus ‘Automatic for The People’ (1992), akusik-akustik lalu tiba-tiba ’Monster’ (1994) yang isinya gitar elektrik, tapi nggak nanggung. Tadinya tuh rencananya kami pinginnya EP sebenernya.

Si ‘Lima’ ini?

Pokoknya gue pengen bikin lagu berbahasa Indonesia itu EP. Terus lama-lama setelah dipikir, “Kok kayak main-main ya?”. Kayak eksperimen gitu, ibarat kata eksprimen itu bisa gagal bisa nggak. Nah, sekarang kami berani aja taruhan. Yaudah, jebret! Rilis album.

Tapi sebenarnya ide awalnya gimana?

Sebenernya dulu waktu kami bubar itu sudah terpikir. Cuma karena keaadannya kan dulu, gitu lah, nggak enak. Dan ‘Home’ (2014) juga kan sisa-sisa tenaga yang ada. Album itu “nyakar-nyakar” lah istilahnya, masih untung ada album. Nah, yang sekarang gue inginnya balik lagi seperti album pertama, semangatnya.

Makanya gue pinginnya ngejagain album ini. Jadi kayak dulu aja, waktunya mixing, datang. Tadinya kan biasanya sama Ari Aru (produser musik Tulus di Bandung). Akhirnya diputuskan lah, kayanya harus di Jakarta ngerjainnya. Ketemu lah Mondo (Gascaro), kami tanya, “Ndo, lo bisa nggak mixing?” dia menjawab, “Gue mixing nggak bisa sih, tapi kalo ngawasin bisa. Ada gue orang, namanya Dimas (dari ALS studio).”

Terus satu waktu gue ada beberapa lagu yang sebenarnya udah mentok, gue tanya aja, “Diapain ya Ndo?” “Oh, gini aja, jadinya gini.” Terus gue nanya lagi, “Yang ini gimana?” “Oh, kalo yang ini begini.” ”Ya udah lo aja yang ngerjain.” Sama si Mondo diotak-atik. Gue bilang aja, “Nah, berarti lo produsernya, Ndo. Hahaha”. Terjebak dia. Hahaha.

Hahaha. Terjebak?

Iya, hahaha.

Tapi lo sendiri kenapa terpikirnya Mondo? Apa karena alasan kedekatan atau memang sudah mengincar nama Mondo sebagai produser?

Kalo gue pribadi ngefans banget sama Mondo. Gue pas denger ‘Rajakelana’ (album debut Mondo, 2016) yang… “An**** nih!”. Jadinya gue nggak mau mendengarkan lagu gue. Ini bagaikan cipratan kuah bakso euy. Lumayan bikin ngedrop. Hahaha. Terintimidasi guenya jadinya. Hahaha.

Lalu apa kesan bekerjasama Mondo di album ini?

Si Mondo itu kan sangat beda ya sama kita. Jadi isian-isiannya itu yang…”An****, bisa gini ya?” “Emang masuk?” “Ternyata piano sama flute tuh bisa enak begini ya?” Dulu tuh Mocca nggak mungkin tuh masukin flute di piano, susah. Ada sound piano, tapi ada flute juga di situ. Sama Mondo dimasukin dan bagus.

Untuk proses kreatif apa murni dari Mocca semua apa Mondo juga turut menyumbang?

Mondo lebih ke isian sih. Dia nggak ngotak-ngatik lirik sama sekali. Notasi sama musik kami semua.

Berbahasa Indonesianya Mocca di album “Lima”, apa karena terinspirasi dari ‘Rajakelana’?

Nggak sih. Gue pengen aja. Yang lamanya tuh mencari format bahasa untuk lirik yang tepat buat Mocca. Sekarang kan “indie-s***” itu teh, kayaknya semua berbunga-bunga. Template nya tuh seperti Efek Rumah Kaca, “Oh ini harus gini nih.” Kayaknya kalau yang indie tuh harus puitis.

Berarti, apa yang lo lakukan ketika merumuskan ini?

Dengerin lagu-lagu Indonesia. Semua, dari Danilla, Banda Neira, sampai Kla Project, gue dengerin semuanya. Akhirnya gue dapat formatnya. Kayaknya kaya gini nih buat si Mocca. Kalo dibilang ringan? Ringan. Cuma kalo lo mau tau dapur di baliknya, berat sebenarnya buat si Mocca.

Seperti ‘Seharusnya’?

Emang itu kan Indonesia lagi nggak enak nih. Auranya lagi nggak enak. Lagi banyak perpecahan. Apalagi dulu pas Pilkada DKI. Itu pas lagi gue nulis. Nah, gue bikin lagu ini ituh untuk potret zaman, penanda zaman.

Mocca dan album barunya ‘Lima’ (Foto: press release)

Pertama gue bikin itu malah sebenernya “Aku dan Kamu”. Lagu itu tentang bendera Indonesia. “Aku merah kamu putih, berdua kita bisa meraih mimpi.” Sebenernya gue ingin nasionalis tapi nggak yang paskibra gitu.

Intinya album ini adalah soal perbedaan. Makanya ada matahari dan bulan. Perbedaan itu bagus.

Tapi secara garis besar ini bukan album konsep ya? Seperti ‘My Diary’ (2002) misalnya?

Nggak. Gue nggak akan mau mengulang apa yang udah pernah gue lakukan. Jadi gue nggak akan mau bikin album konsep lagi, soalnya udah pernah. Tantangannya di album ini ya lirik. Dan keluar dari comfort zone itu sangat susah.

Yaah..beberapa band yang sudah senior, rilis album baru yaudah sama aja gitu. Kayak album-album sebelumnya. Nah, lo berani nggak bikin sesuatu yang baru. Kalo gue bilang “Mocca mengeluarkan sesuatu yang baru” ya ini baru beneran baru.

Lagu ‘Menunggu untuk Bertemu’ bareng Payung Teduh dibikin saat timeline yang sama dengan album ini?

Timeline yang sama. Gue belajar juga dari Is. Semua orang tahu lah Is ya. Dia bisa dibilang sebagai salah satu orang yang “mengintimidasi” gue. “Is ini lagu gue. Lagu lo mana?” “Oh ini lagu gue nih, baru 10 menit lalu gue bikin di mobil” “Deng..deng…deng… lirik sama lagu langsung yang bagus gitu.” “An****…” Hahahaha.

Jadi, menurut lo sendiri, lirik dan musik yang bagus dan bisa menyatu versi Riko Mocca itu apa?

Sebenernya ya kalo buat gue, lirik di musik yang so-called cutting edge, yang punya nilai lebih, karena mereka punya soul. Gue pernah bikin, ada satu lagu berbahasa Inggris, judulnya ‘Farewell & Goodnight’ buat mertua laki-laki gue.

Pertamanya gue udah bikin lagu itu. Udah jadi. Tapi gue belom “dapet” ngerasa ada yang kurang gitu. Sempat dibawain di Secret Show malah. Sampai akhirnya kejadian. Mertua perempuan gue meninggal dan mertua laki-laki gue se-devastated itu. Wah itu, benar-benar kehilangan lah. Akhirnya gue mendedikasikan lagu itu buat dia. Gue tinggal menambahkan satu kata gitu, gue lupa. Tapi lagu ini langsung dapet soul-nya.

Gitu sih. Jadi menurut gue, anak-anak (band) sidestream punya itu dalam bikin lagu. Punya soul. Lagunya hidup.


Batok.co: Berita musik dan gaya hidup terkini.

Share your thoughts

You may be interested

Kreator Spongebob meninggal, netizen Indonesia bikin meme pengajian
Viral
0 shares14346 views
Viral
0 shares14346 views

Kreator Spongebob meninggal, netizen Indonesia bikin meme pengajian

Batok.co - Nov 30, 2018

Selamat jalan Stephen Hillenburg.

Nyebrangin papan, motornya selamat orangnya nyebur (video)
Viral
0 shares6214 views
Viral
0 shares6214 views

Nyebrangin papan, motornya selamat orangnya nyebur (video)

Batok.co - Nov 29, 2018

“Ngapa lu loncat lontong!”