Menelusuri pola pikir pelaku “klitih” di Yogyakarta: Maskulinitas salah persepsi

August 1, 2018
265 Views
Ilustrasi. Foto: Pixabay
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Geng remaja bersenjata tajam mengendarai sepeda motor di jalan yang sepi di tengah malam dan melukai orang lewat. Dan bukan sekedar kejahatan, namun seakan jadi gaya hidup.

Kedengarannya memang seperti premis untuk film horor murah atau sekuel baru dari seri ‘The Purge’, tetapi benar-benar terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan dikenal sebagai “klitih.”

Jumlah kasusnya pun cukup signifikan, dan mengkhawatirkan orang-orang yang sering pulang larut.

Meski pada awal 2018 dinyatakan bahwa kejahatan penganiayaan berat (anirat) di DIY telah turun hingga 44,12%, rasanya masih ngeri karena belum benar-benar berhenti.

Psikolog dari Yayasan Pulih, Jane L Pietra, yang kerap menangani trauma korban kekerasan, percaya ada unsur salah mengartikan maskulinitas yang mendorong terjadinya klitih.

“Fenomena ini perlu diatasi dari akarnya, yang merupakan citra maskulinitas yang salah. Suatu pendekatan menyeluruh juga diperlukan untuk membuat mereka memahami konsekuensi sebenarnya dari kekerasan dan bagaimana menghormati orang lain,” katanya kepada Coconuts Media belum lama ini.

Jane juga menyoroti perubahan makna “klitih” yang turut andil perilaku para pelakunya.

“Ada perubahan besar dalam arti kata lokal “klitih” (yang pada dasarnya diterjemahkan menjadi “hang out”), dari positif ke negatif. Klitih pernah ditafsirkan sebagai cara untuk menghilangkan rasa bosan dengan jalan-jalan di malam hari bersama teman-teman. Sekarang klitih diartikan sebagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja, ” kata dia.

Di sisi lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak masyarakat untuk memandang remaja-remaja ini bukan sebagai kriminal, tetapi sebagai korban.

“Ada seorang anak berusia 15 tahun. Dia rupanya tidak mengira orang tuanya mencintainya, jadi dia lebih setia kepada teman-temannya dan akan setuju melakukan apa saja,” kata Sekretaris KPAI Yogyakarta, Indri Aksari baru-baru ini, dikutip dari Kumparan.

Lalu, apa yang sebenarnya dicari dari kegiatan klitih ini? Batok.co mewawancarai seorang mantan pelaku yang kini memilih fokus di bisnis kuliner.

Bagaimana awalnya bisa terlibat klitih?

Semuanya dimulai dari geng sekolah. Anak-anak yang berasa punya nyali berkumpul jadi satu.

Keuntungan dan tujuannya sendiri apa?

Tujuannya buat besarin nama sekolah sekaligus geng sekolah. Inginnya sih diakui kalau di Jogja ini ada keberadaan kami. Keuntungannya nggak ada sih, lebih ke kepuasan pribadi saja.

Benar tidak kalau klitih adalah buat menunjukan bahwa seseorang terlihat jantan?

Bisa dibilang gitu. Kadang ada juga anak yang gak punya mental pemberani tapi dia cuma ikut-ikutan biar dipandang berani dan enggak di-bully di sekolah.

Korban seperti apa yang biasanya jadi sasaran? Apa alasannya?

Sasaran utama sebenarnya geng sekolah lain atau musuh-musuh pribadi. Tapi di saat sudah muter-muter dan gak juga nemu sasaran, akhirnya asal aja sasarannya. Yang penting laki-laki dan kelihatan masih sekolah.

Ya bisa dibilang sasarannya lebih ke ngasal.

Ada rasa takut tidak saat melakukannya?

Gak sih, lebih ke seru saja.

Kalau orang-orang yang melempar batu ke mobil itu karena kesal tidak dapat sasaran juga?

Kalau itu saya gak bisa jawab, Soalnya ngelemparin batu ke mobil itu bener-bener tindakan yang gak jelas.

(Berpikir sejenak) Mungkin itu lebih ke penakut, jadi mikirnya ketimbang ambil resiko dilawan balik, akhirnya memilih lempar batu aja. Selain lebih gampang, gak mungkin bisa ngelawan juga kan soalnya bisa langsung kabur.

Tapi mungkin lho ini.

Apa yang membuatmu berhenti melakukan klitih?

Kebanyakan yang berhenti klitih itu karena udah gak sekolah lagi atau udah lulus. Tapi ada juga yang masih aktif, biasanya yang masih aktif itu yang gak pada kerja. Kalau yang udah pada kerja kebanyakan langsung pada berhenti.


Batok.co: Berita musik dan gaya hidup terkini.

Share your thoughts

You may be interested

Kenalkan Danto, pemuda Indonesia yang berjuang taklukan Hollywood (Wawancara)
Musik
0 shares18 views
Musik
0 shares18 views

Kenalkan Danto, pemuda Indonesia yang berjuang taklukan Hollywood (Wawancara)

Rizkiono Unggul Wibisono - Aug 22, 2018

“..berpartisipasi dalam ratusan audisi dan hanya mendapatkan satu atau dua peran saja…” Danto telah terlibat dalam berbagai proyek film, video musik, hingga sketsa komedi di sana. Kamu mungkin pernah melihat penampakannya dalam video musik John Legend bareng Chance the Rapper yang berjudul 'Penthouse Floor’.

Susah move on, cerita driver ojol galau mendadak pas kerja
Viral
0 shares21 views
Viral
0 shares21 views

Susah move on, cerita driver ojol galau mendadak pas kerja

Batok.co - Aug 21, 2018

Move on memang bukan perkara mudah.

Kreatif banget, nama-nama warung Padang dijadiin satu paragraf
Viral
0 shares39 views
Viral
0 shares39 views

Kreatif banget, nama-nama warung Padang dijadiin satu paragraf

Batok.co - Aug 21, 2018

Yang nulis siapa ya?