Exclusive: Wawancara Joko Anwar tentang ‘A Copy of My Mind’, ‘Halfworlds’, dan masa depan industri film Indonesia

March 22, 2018
989 Views

Piala Citra yang baru saja diraihnya lewat film A Copy of My Mind, dan film seriesnya, Halfworlds, yang akan premiere perdana di HBO Asia hari Minggu (29/11) ini, membuat Joko Anwar pantas kita juluki sebagai sutradara terkeren Indonesia.

Sabtu pagi yang cerah menaungi perjalanan kami ke kantor Joko Anwar di bilangan Jakarta Selatan. Senyum lebar pria berusia 39 tahun ini menyapa saat kami memasuki pintu ruangannya yang rapi. Perhatian kami langsung tertuju pada jejeran koleksi DVD di satu sisi tembok ruangan dan TV flat screen di sisi lainnya. “Please, make yourself at home,” ujarnya.

Tapi kami gak melihat jejeran piala penghargaan yang berhasil ia raih lewat karya-karya luar biasanya dalam beberapa tahun ke belakang. Kami tau betul dia memenangkannya, namun semua penghargaan itu gak terpampang di ruangan kerjanya.

“I don’t work for the acceptance of others and awards are not important to me, I believe in creating good works for its own sake.”

Joko Anwar boleh saja gak  mengejar penghargaan, tapi kemampuan bertuturnya lewat film yang inovatif justru menjadi magnet bagi penghargaan-penghargaan film nasional dan internasional.

Karir Joko di film sebetulnya berawal saat dia mewawancarai produser film ternama Indonesia, Nia Dinata. Nia begitu terkesima dengan Joko yang saat itu bekerja sebagai wartawan Jakarta Post, sehingga Nia pun menawarkan Joko untuk menulis skenario untuk project film yang saat itu sedang ia garap. Lewat tangan dingin Joko, film Arisan! pun lahir dan menuai pujian serta penghargaan, termasuk piala Citra untuk kategori Film Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2005.
 


“I don’t work for the acceptance of others and awards are not important to me. I believe in creating good works for its own sake.”


Kerja keras Joko sebagai sutradara film juga membuahkan hasil yang sama. Tahun 2005 menjadi tahun di mana film komedi romantis yang disutradarainya, Janji Joni, memenangkan Best Movie di ajang MTV Indonesia Movie Awards.

Dua tahun berikutnya, usaha Joko menghadirkan film bergenre ‘noir’ pertama di Indonesia membuahkan Jury Prize dari New York Asian Film Festival 2007 untuk film Kala.  

Film yang dirilisnya pada 2009, Pintu Terlarang, juga diputar di International Film Festival Rotterdam, New York Asian Film Festival, dan Dead by Dawn.

Dan tentu saja, film terbarunya A Copy of My Mind (ACOMM) berhasil membawa Joko ke festival-festival film prestisius dunia, seperti Venice Film Festival, Busan International Film Festival, dan Toronto International Film Festival, sebelum akhirnya membawa Joko naik ke panggung FFI 2015 untuk menerima piala Citra pertamanya sebagai sutradara.

ACOMM bercerita tentang seorang perempuan yang bekerja di salon murahan dan jatuh cinta kepada pria yang membuat subtitle film DVD bajakan, di tengah hiruk pikuk pemilu presiden di Indonesia. ACOMM akan diputar secara nasional pada Februari mendatang.
 


“I think the common people are the ones who suffer the most from the political turbulence, although they have very little to do with it.”


A Copy of My Mind is meant to be a time capsule for Indonesian society; a contemporary Indonesian portrayal of this age where the political state is very turbulent. And I think the common people are the ones who suffer the most from the political turbulence, although they have very little to do with it. But I don’t want to portray the situation in a heavy way, since I am not a fan of politics. I want to portray it through the eyes of common people, so I made it into a love story between two people that we can meet everyday in our own lives,”

Di film ACOMM Joko berusaha menampilkan dampak gejolak politik di Indonesia yang justru sering merugikan masyarakat yang gak terlibat langsung.

Namun Joko mengaku bukan pecinta politik, dan ia gak ingin membebankan penonton dengan interpretasi politik yang memusingkan. Melainkan, ia sajikan benang kusut politik melalui kacamata orang awam yang sedang jatuh cinta.

Perpaduan romansa dan politik di ACOMM memang terasa sangat beda dibanding film-film Joko sebelumnya. Sesuatu yang memang diakui Joko menjadi tujuannya.

“I always try to make films without putting myself into a box. When I decide to make films, I decide to make stories. I don’t decide what kind of filmmaker I want to be. Janji Joni, the first film [I directed], was a romantic comedy; my second film was film noir; third was a psychological thriller. Every movie that I did was different than my previous film. A Copy of My Mind is also different, because I want to explore my film making style. Some of the storytelling in A Copy of My Mind is similar to my other movies, but the technical style is very different. It’s more natural, very close to documentary.”

Walau cara bertutur ACOMM diakui mirip dengan film drama percintaan lainnya, tapi Joko memberi sentuhan yang berbeda dari teknik pengambilan gambar dan penggunaan dialog yang membuat ACOMM terasa seperti sebuah film dokumenter.

Satu bagian di ACOMM yang sepertinya mencerminkan karakter Joko Anwar adalah kecintaannya terhadap film. Tapi bagaimana dengan film bajakan?

Kami penasaran dengan pendapat pribadi Joko Anwar soal film bajakan melihat masa kecilnya yang dipenuhi dengan tontonan film bajakan tapi kini justru film-filmnya yang dibajak.

Setelah berpikir beberapa saat, dengan berhati-hati Joko pun menjawab:

“I grew up in Indonesia with pirated DVDs. So it’s a very difficult subject to talk about. If you look at my DVD collection now, they’re all authentic and legitimate DVDs, but when you need to watch certain films – when you think watching films is your primary need – and it’s not available very easily, then you start looking at other sources for those movies.”

“So to say if it’s right or wrong is very difficult. The deed itself is illegal and it’s a crime. I think what the government should do is to make movies more available, to make it easy for people to access films, while at the same time, they should also try to make piracy really feel like something that’s illegal. Right now, if you go to some malls you can easily buy DVDs.”

Beruntung, dengan maraknya layanan TV cable di Indonesia sekarang ini, masyarakat Indonesia jadi gak terlalu bergantung pada film bajakan untuk mendapatkan hiburan. Tapi kami juga gak kaget bila nanti akan banyak beredar DVD bajakan series terbaru HBO Asia karya Joko Anwar, Halfworlds.

Haflworlds mengambil setting di Jakarta yang menjadi medan pertempuran antara manusia dan gerombolan setan mitologi Indonesia. Joko Anwar dan pihak HBO berhasil meramu sebuah konsep cerita dan tayangan fantastis tentang kota Jakarta yang ‘dark’ dan ‘stylized’ di series 8 episode ini.

“They wanted to do something that was Asian, but at the same time would be interesting to a global audience. We cooked up the concept together and came up with Halfworlds,” 

Joko mengakui bahwa membuat cerita tayangan TV dengan film sangat jauh berbeda. Ini menjadi tantangan bagi Joko untuk menggunakan pendekatan dan treatment baru dalam storytelling.
 


“… when making something for TV, where people can easily switch the channels, so you have to try to keep people interested. So you can’t linger too much on your style. You have to make it really gripping sp people want to stay and watch it.”


“I think you have to consider that, while you’re making films, they’re aimed primarily at theaters, where people deliberately make time to go to watch films. But when making something for TV, where people can easily switch the channels, you have to try to keep people interested. So you can’t linger too much on your style. You have to make it really gripping so people want to stay and watch it.”

Season pertama Halfworlds sudah rampung, dan bisa segera kita nikmati di channel HBO. Namun ini tidak membuat Joko puas diri dan bersantai. Dia bahkan sudah memiliki beberapa project yang sedang digarap, dan memberikan kita beberapa bocoran.

“The first one is called The Executor, which is about five people killing politicians in Indonesia; the second one is a children’s film for adults. The characters are children but adults can also reflect on the story too. Another one is a romantic comedy called The Last Wedding On Earth. I’m also working on the second part of the trilogy, called A Copy of My Soul.”

Walau sebentar lagi nama Joko Anwar akan semakin dikenal masyarakat dunia lewat Halfworlds, Joko mengaku tidak akan meninggalkan Indonesia untuk hijrah ke Hollywood.

Joko optimis perfilman di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa di masa depan.

“I think the Indonesian film industry is getting better. I choose to be enthusiastic and say yes, it is getting better. I think there will be more new talents emerging in the industry because I’m seeing more and more new people coming up with good work and I believe these people will get projects. There will be more talents that will emerge, that will try to break the stale ways of filmmaking in Indonesia – bad ideas, uninteresting story telling. Now is a really exciting time for our film industry.”

Artikel ini disadur dari tulisan Penny Lane untuk Coconuts Jakarta.

 

Share your thoughts

You may be interested

Kreator Spongebob meninggal, netizen Indonesia bikin meme pengajian
Viral
0 shares18638 views
Viral
0 shares18638 views

Kreator Spongebob meninggal, netizen Indonesia bikin meme pengajian

Batok.co - Nov 30, 2018

Selamat jalan Stephen Hillenburg.

Nyebrangin papan, motornya selamat orangnya nyebur (video)
Viral
0 shares6526 views
Viral
0 shares6526 views

Nyebrangin papan, motornya selamat orangnya nyebur (video)

Batok.co - Nov 29, 2018

“Ngapa lu loncat lontong!”