Waria disemprot air damkar saat razia hingga acara lari batal karena warna pelangi: Kebrutalan negeri ini hadapi LGBT tak bisa dipahami (Opini)

November 10, 2018
169 Views
Tiga waria disemprot air damkar saat razia di Lampung (Foto: Twitter/@andreasharsono via Coconuts Jakarta

Tidak lah melanggar hukum menjadi LGBT di Indonesia. Tapi di negeri ini seakan tak perlu hukum untuk menentukan benar dan salah.

Selama merasa memiliki standar moral lebih tinggi, yang berbeda tiada berarti lagi. Boro-boro hak asasi manusia (HAM), dianggap manusia saja belum. Seakan dosanya luar biasa terhadap umat manusia.

Baru-baru ini luput dari pemberitaan media-media online Indonesia, soal tiga waria di Lampung yang dipermalukan dan direndahkan martabatnya sedemikian rupa.

Diberitakan VOA Indonesia, Satpol PP merazia tiga waria di lokasi wisata Labuhan Jukung, Pesisir Barat, Lampung pada Jumat 2 November 2018 lalu. Petugas kemudian menyemprot mereka dengan air dari mobil pemadam kebakaran (damkar), menyebutnya sebagai “mandi wajib”.

Bukan aksi main hakim sendiri dari masyarakat tak berpendidikan loh ini, tapi oleh aparat yang seharusnya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi semua orang tak terkecuali.

Sudah disemprot, tiga waria tadi kemudian dipotret hingga fotonya tersebar di media sosial, seperti terlihat dalam unggahan Twitter Andreas Harsono, peneliti dari Human Rights Watch.

Aktivis dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat mengecam aksi Satpol PP karena tidak ada dasar hukumnya.

“Kalau ada satu pasal yang dilanggar, coba dilihat ketentuan pidananya. Ada nggak melakukan tindakan tidak manusiawi: menyiram seseorang di malam hari dengan semprotan pemadam kebakaran? Ada nggak sanksi seperti itu di Perda? Nggak ada,” kata pengacara publik LBH Masyarakat, Naila Rizki.

“Pembinaan itu seperti apa sih? Apakah seperti itu? Kan tidak. Berarti satu, dia menyalahgunakan kekuasaannya. Yang kedua, dia sudah melanggar hukum. Yang ketiga, dia memang tujuannya adalah menyiksa seseorang, merendahkan martabat seseorang. Jadi tujuannya bukan lagi menegakkan perda tapi moral versi mereka.”

Menyusul insiden ini, kelompok advokasi LGBT di Lampung berharap semua aparat untuk dapat memanusiakan manusia.

“Pesan saya terhadap aparat pemerintah baik itu kepolisian, Satpol PP, TNI dan sebagainya, harapannya pandanglah kami LGBT sebagai manusia. Terlepas orientasi (seks) kami berbeda, kami punya hak yang sama menjadi warga Indonesia,” kata seorang aktivis yang enggan disebutkan namanya.

Bukan sekali dua kali sikap paranoid dan homofobia ditampilkan aparatur negara. Yang terkonyol mungkin saat Walikota Bukittinggi, Sumatera Barat membatalkan acara lari “Bekate Color Run” karena dianggap sebagai ajang dukungan terhadap kehadiran LGBT.

“Pendapat masyarakat bukan tanpa alasan. Event Color Run menjadi salah satu kegiatan yang diduga sebagai ajang dukungan terhadap kehadiran LGBT. Karena warna warni rainbow yang menjadi khas dari event itu, diindikasikan kepada salah satu lambang atau logo dari komunitas LGBT,” kata Walikota Bukittinggi, M. Ramlan Nurmatias, dikutip dari RRI.

Mungkin sebentar lagi kita harus khawatir makan rainbow cake di muka umum, atau sekedar menyanyikan lagu ‘Pelangi’ karya AT Mahmud untuk adik kecil dan anak-anak kita.

Pelangi pelangi, ciptaan Tuhan.


Batok.co: Berita musik dan gaya hidup terkini.

Share your thoughts

You may be interested

Video: Makan jagung ditusuk bijinya mirip sate, mau coba?
Viral
0 shares3 views
Viral
0 shares3 views

Video: Makan jagung ditusuk bijinya mirip sate, mau coba?

Batok.co - Nov 19, 2018

Menurutmu jadi gampang atau makin ribet?