Yang dangkal, yang radikal: Peneliti Jerman menemukan hubungan antara radikalisme dan pemahaman agama yang terbatas

July 17, 2017
145 Views
Foto: Ilustrasi/Pixabay

Agama apapun damai dan indah, namun terkadang “tercoreng” oleh ulah segelintir pemeluknya yang jahat.

Meski secara akal sehat menyebarkan teror dan membunuh orang tak berdosa dengan mengatasnamakan Tuhan bukanlah ajaran agama manapun, radikalis, ekstrimis, teroris atau apapun kamu menyebutnya, selalu percaya diri kalau aksi mereka diridhoi dan bahwa aksi teror mereka akan dibalas dengan surga.

Tapi mengapa sih segelintir penganut agama bisa bisa sebegitu berbedanya dari mayoritas penganut yang lain yang relatif moderat dan toleran? Padahal, kalau dipikir-pikir, kitab sucinya sama, nabinya sama, ajarannya sama.

Mungkin butuh pembahasan setebal skripsi kuliah untuk menjabarkannya. Tapi, menurut sebuah penelitian yang dilakukan dua universitas di Jerman, Bielefeld dan Osnabrück, para radikalis justru memiliki pengetahuan yang dangkal tentang agama yang dianutnya.

Para peneliti menganalisa 5.757 pesan WhatsApp yang melibatkan 12 orang, dalam sebuah telpon seluler yang ditemukan polisi Jerman berkaitan dengan serangan teror oleh simpatisan ISIS terhadap kuil Sikh di negaranya pada 2016 lalu.

Ke-12 orang radikalis, menurut para peneliti, menunjukan pemahaman yang terbatas terhadap Islam. Kelompok itu juga disebut berpikir dengan logika “Islam Lego”, dimana mereka menyusun sendiri “kebenaran” sesuai kehendak dan kepentingannya, tanpa banyak atau sama sekali bersumber dari Al Quran.

“Semua percakapan relijius yang dilakukan 12 orang tersebut hanya bersumber kepada apa yang mereka dengar dan rumor belaka,” kata seorang peneliti, Rauf Ceylan kepada Huffpost.

Bacem Dziri, seorang peneliti lainnya juga menyimpulkan bahwa kelompok itu tak paham pengetahuan dasar tentang Islam.

Well, mungkin keakuratan penelitian yang terbit sebagai buku berjudul “Lasset uns in sha’a Allah ein Plan machen”: Fallgestutzte Analyse der Radikalisierung einer WhatsApp-Gruppe (Islam in der Gesellschaft) ini masih perlu diperdebatkan lagi.

(Untuk membacanya secara lengkap kamu bisa mendapatkannya di sini.)

Tapi di luar itu, sewajarnya kita patut waspada supaya tidak gampang terpengaruh ucapan atau pemikiran orang yang mengaku menyebarkan nilai-nilai agama tapi justru terdengar seperti menyebarkan kebencian semata.

Dinalar saja, kamu mau menganutnya atau tidak, secara mendasar agama apapun itu indah. Mana ada yang mengajarkan kebencian membabi buta?

Baca juga:


Ragam cerita seru dari duniamu. Terkini dan terabsurd dari seluruh penjuru planet.

Share your thoughts

You may be interested

Playlist lagu indie yang enak didengarkan musim hujan begini
Hiburan
0 shares90 views
Hiburan
0 shares90 views

Playlist lagu indie yang enak didengarkan musim hujan begini

Batok.co - Nov 19, 2017

Galau-galau gimana gitu..

“Bisa berapa kali nabrak?”: Game mobile ‘Tiang Listrik’, katanya terinspirasi Setya Novanto
Gaya Hidup
0 shares96 views
Gaya Hidup
0 shares96 views

“Bisa berapa kali nabrak?”: Game mobile ‘Tiang Listrik’, katanya terinspirasi Setya Novanto

Batok.co - Nov 17, 2017

Game 'Tiang Listrik' Bisa Di-download Gratis.