Kenapa pernyataan Jerinx soal major-indie penting buat industri musik kita

April 28, 2017
197 Views
Jerinx (Instagram.com/jrxsid - Photo by: @rahadipurnawan)
Jerinx (Instagram.com/jrxsid – Photo by: @rahadipurnawan)

Lebih suka mana, band indie atau major label? Kalau kamu tanyakan itu ke vokalis Devildice, Jerinx, bisa jadi jawabannya gak akan sesuai harapan kamu. Lihat saja pernyataan di akun Instagramnya beberapa waktu lalu.

“Seriously, apa sih beda band major dengan indie? Percuma major kalau gak punya fanbase, percuma juga indie kalau main aman ndak ngelawan apa-apa.”

Secara garis besar, konsep indie sendiri mengacu pada idealisme para musisi atau band yang berkarya secara berdikari, mulai dari pembuatan album, penjualan merchandise, sampai urusan manggung. Itu kenapa ranah ini selalu dianggap sebagai sebuah ‘tanah kebebasan’ dalam berkarya.

Jerinx bersama fans membersihkan sampah di pantai (Foto: Instagram)

Jerinx bersama fans membersihkan sampah di pantai (Foto: Instagram)

Sementara major label, lebih seperti kontrak musisi atau band dengan sebuah perusahaan rekaman. Tujuannya tentu untuk meraup skala pendengar yang lebih besar lantaran didukung oleh network luas serta modal yang mumpuni.

Baca juga:

Sayangnya, mereka yang akhirnya memilih untuk bergabung dengan major label seringkali dicap telah menukar idealisme dan pesan-pesan perjuangannya demi uang alias jual diri.

Green Day (Foto: Instagram)

Green Day (Foto: Instagram)

Kamu bisa melihat contohnya pada Green Day yang dicaci-maki para penganut punk lantaran pindah ke major label pada 1994 silam. Sang senior, Sex Pistols sampai tega mengatai mereka dengan sebutan “Versi Jelek dari Punk Rock”.

Nyatanya, meski dianggap melanggar slogan DIY (Do It yourself) yang selama ini jadi semacam kode etik punk, justru Green Day-lah saat ini yang paling keras menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Band yang katanya kurang punk itu bahkan berani bertahan di jalur ‘berbahaya’ di saat yang lain sibuk menyanyi soal indahnya masa remaja.

Superman Is Dead (Foto: Instagram)

Superman Is Dead (Foto: Instagram)

Begitu juga dengan band lain Jerinx, Superman Is Dead yang pernah kena sindiran lantaran pernah berada di major label. Sebuah hal yang entah kenapa ‘begitu terlarang’ buat seorang musisi punk.

Padahal main aman atau tidaknya sebuah band enggak melulu tergantung sama indie atau major. Entah berapa kali SID kehilangan tawaran manggung lantaran memperjuangkan hal-hal yang mereka yakini.

Jadi buat kamu yang konon ‘kritis’ sama musik, ada baiknya menilai band dari karya dan pemikiran mereka, bukan sekedar membanggakan jalur distribusi yang dipilih untuk mengebulkan dapur.

Setidaknya, ketika mengenakan nama band di kaos yang kamu pakai, pastikan apa yang diserukan sesuai dengan pemikiranmu. Biar tidak ada yang ‘salah tegur’ saat berpapasan di jalan.

You may be interested

Karyawan lebih suka kerja remote, WordPress tutup kantornya
Gaya Hidup
0 shares13 views
Gaya Hidup
0 shares13 views

Karyawan lebih suka kerja remote, WordPress tutup kantornya

Batok.co - Jun 22, 2017

Di zaman serba digital seperti sekarang mah kerja bisa dilakuin di mana aja.

Universal rilis trailer ‘Happy Death Day’, seperti melihat Final Destination lagi dan lagi
Hiburan
0 shares16 views
Hiburan
0 shares16 views

Universal rilis trailer ‘Happy Death Day’, seperti melihat Final Destination lagi dan lagi

Batok.co - Jun 22, 2017

Formula Final Destination kayaknya masih dianggap menarik dan terus dibuat dalam film berbeda.